Akibat Menikah Di Usia Dini
Sebut saja
nama saya wati, tinggal di kabupaten Cianjur Selatan, saya lahir di keluarga
yang serba kekurangan. Maklum saja saya anak ke5 dari 6 bersaudara, ayah
bekerja hanya menjadi petani, jadi sewaktu kecil saya dan kakak-kakak saya
sering membantu ibu berjualan untuk mencukupi kebutuhan.
Saat umurku
13 tahun, saya sudah tidak sekolah lagi karena tidak ada biaya sehingga saya
harus bekerja, saya bekerja ke kota agar penghasilan meningkat, Tetapi tidak
ada pekerjaan yang menerima saya di karnakan saya hanya lulusan SD. terpaksa saya
bekerja menjadi Pembantu Rumah Tangga di suatu rumah yang cukup besar di
keluarga Pak Bayu,keluarga tersebut memiliki seorang bayi yang membuat saya
harus mengasuh sekaligus pembantu di rumah itu. Pekerjaan ini membuatku sangat
kewelahan karena di rumah tersebut hanya memiliki dua pembantu termasuk saya.
2 tahun
kemudian, keluarga Pak Bayu hanya menugaskanku mengurus anaknya yang berumur 3
tahun karena dari semasa kecil bayi itu sudah bersamaku, jadi keluarga Pak Bayu
sudah percaya kepadaku. Saya sangat senang sekali karena setiap jalan-jalan
saya selalu di ajak dengan tujuan mengasuh balita tersebut.
3 bulan
kemudian saya di ajak oleh Bu Bayu ke pasar untuk berbelanja, di suatu toko
pakaian saya bertemu dengan seseorang yang membuat saya jatuh cinta, mungkin
ini adalah kali pertama saya merasakan cinta. Pria itu mengajak saya untuk
berkenalan dan kami pun saling menyukai, pria itu baermana Imron dari
Tasikmalaya.
Setelah lama
berteman, saya di ajak pulang oleh Imron untuk mengatakan kepada Orang tua saya
bahwa ia akan menikahi saya. Tentu saja saya sangat senang dan itu adalah
impian saya pada saat itu, semoga saja dengan menikahi dia saya sudah tidak
harus lagi bekerja banting tulang untuk menafkahi keluarga.
Saat sampai
di Cianjur dia langsung mengatakan maksud ia datang ke tempatku dan mengajakku
untuk pulang. Kadua Orang Tuaku awalnya tidak mengizinkan saya untuk menikah
karena umurku saat itu baru menginjak 16 tahun, dan umur Imron saat itu sudah
30 tahun, tentunya perbedaan usia yang membuat kedua Orang Tuaku tidak yakin
dengannya. Tetapi Imron meyakinkan kepada kedua Orang tuaku tentang
kesejahteraan ku dan rasa cintanya kepadaku, sahingga membuat kedua Orang Tuaku
mengizinkan, tanpa berfikir lama keesokan harinya kami berdua menikah, walaupun
acaranya tidak terlalu megah dan Imron hanya di wakili oleh seorang kerabatnya,
tetapi itu tidak mejadi kendalaku untuk menikah.
5 Hari kami
menikah, dan Imron ingin mengajakku pergi ke Tasikmalaya untuk bertemu dengan
keluarganya. Sesampai di sana kedua Orang Tuanya bertanya kepada Imron, “siapa
wanita yang bersamamu ron?”. Imron menjawab “dia ini adalah istriku”. “Apa...!
Anak kecil ini istri barumu?”. Tentu saja itu membuatku bingung tentang isri
baru, karena ku tidak tau apa-apa. Ibu Imron menceritakan kedapaku tentang
Imron yang sudah pernah menikah dan mempunyai satu anak, sontak membuatku kaget
dan lari ke kamar. Saat Imron menghampiriku, aku langsung saja menamparnya
“kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau kau sudah punya istri? aku tidak mau seperti ini, keu telah
membohongiku, Aku ingin pulang. Aku tidak tahan dengan keadaanku saat ini.” ”Jika
kau ingin pulang silahkan. Pulang saja sendiri” jawabnya. Tentunya saya tidak
pulang karena tidak tau menau tentang jalan untuk pulang.
Saya bertemu
dengan istri tuanya Imron, dia bernama Siti. Kami duduk berdua,“tenang saja ku
tidak akan membencimu karena kau istri muda, ku akan tetap menganggapmu sebagai
adikku, lagi pula kami tidak lama akan bercerai.” “mengapa bercerai? Apakah karena
kehadiranku?” “Tentu saja tidak, nanti kaupun akan merasakan.” Aku tak tahu apa
yang dia maksud.
Sebulan
sudah berlalu, Sitipun telah resmi bercerai dengan Imron, dan kami kini berdua,
kami pergi merantau ke Bandung untuk mencari kerja di sana. Imron membuka bisnis
es Cendol, bisnis ini cukup menguntungkan, banyak pekerja yang kami rekrut
untuk ikut menjual cendol kami berdua. Setahun berlalu
akhirnya saya hamil, ssetelah malahirkan , bayi itu saya beri nama Nurhalimah.Semoga
saja Kali ini kami hidup bahagia bersama sebagai keluarga kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar