Pernikahan yang menyedihkan
Ini adalah cerita ku cerita kesedihan
dan kisah nyata dalam kehidupan ku yang selalu di selimuti duka dan haru. Semua
di mulai dari awal aku menikah dengan seseorang yang ku pikir dialah harapan
dan masa depan ku. Sebut saja nama suamiku itu Dahlan dan aku Sri.
Aku menikah tanggal 13 desember 2009 orang
bilang kalo hari pernikahan adalah hari yang sangat membahagiakan tapi pada
kenyataannya di malam pernikahan itu aku malah mendapat sesuatu yang membuat
aku sedih karna suamiku mulai menunjukan sifat kasarnya mungkin sifat nya itu
belum semua nya dia tunjukan karna waktu itu ke adannya masih dirumah orang
tuaku dan setelah satu minggu menikah aku di bawa kerumah mertuaku oleh suamiku
dan kami pun tinggal di sana dan sejak saat itu sedikit demi sedikit penderitaan
kudimulai. Aku sering di tinggal oleh suamiku entah dia pergi ke mana dan aku
sendiri dirumah sering mendapat perlakuan ga baik dari mertuaku tapi aku tetap
diam tidak memberitahukan sedikit pun pada suamiku karna semua mustahil aku
ceritakan karna suamiku pasti tidak percaya dan yang ada semua akan menjadi
masalah bagi ku, tapi suatu saat dimana orng tua ku datan untuk mengetahui
keadaan ku semua berlaku sangat baik dan seakan tidak pernah trjadi hal apa apa
tapi setelah orang tua ku kembali pulang aku mendapat perlakun tidak baik lagi
aku di bentak di hadapan semua orang kenapa? kenapa aku harus terima perlakuan
ini padahal aku selalu berusaha menjadi istri dan menantu yang baik bagi
mereka.
Suatu ketika suamiku melakukan
kesalahan dengan mencuri barang orang tua nya tapi aku sendiri yang kena imbasnya
aku yang di salahkan atas perbuatan suamiku dan sebelum nya suamiku menyuruh
aku untuk pergi dari rumah itu dengan diam diam tapi aku menolak aku takut
nanti masalah nya jadi panjang dan rumit tapi suamiku marah mendengar
penjelasan ku itu dan dengan terpaksa aku menuruti semua ke inginan nya itu
walau aku tau aku pasti akan kena banyak masalah dan mertuaku akan semakin
membenci aku. Setelah itu aku pergi ke tempat yang sudah di janjikan oleh suami
ku dan kita akan bertemu di sana dan satu minggu lagi hari lebaran, tapi cobaan
yang di lalui begitu sangat berat.
Satu bulan berlalu dari kejadian itu
lalu aku dan suamiku berencana untuk menyewa rumah untuk tinggal kami di sana
dan memulai semua dari awal. Tapi ternyata tinggal di sana tidak membuat aku
bahagia malah membuat aku semakin menderita kenapa ya tuhan kenapa aku harus
menerima cobaan yang begitu berat dan aku benar benar tidak sanggup untuk
menjalani semuanya hari demi hari aku hanya melihat suami ku mabuk dan selalu
memukuli aku bahkan dia berani selingkuh di depan mata ku sendiri aku sering
bertanya pada hatiku sendiri kenapa? kenapa aku harus mendapatkan suami seperti
dia yang selalu menyakiti aku yang tidak kebahagiaan lagi yang kurasa aku lelah
bila harus seperti ini terus aku lelah jika aku harus melihat suamiku setiap
harinya mabuk dan selalu memarahi aku, lalu ternyata ada tetangga ku yang baik,
dia mau mengantar aku sampai ke terminal bis walaupun aku sebenarnya tidak tega
meninggalkannya tapi aku harus relakan itu karena demi kebaikannya.
Sesampai di rumah aku pun tidak bisa
memendam semua kesedihan dan rasa sakit ku, ayah ku pun marah dia mendengar
semua ceritaku sehingga ayah ku memutuskan bahwa aku tidak boleh berhubungan
apa lagi menemui suamiku lagi mungkin itu bentuk kasih sayang seorang ayah
terhadap anaknya dan aku pun didukung oleh para sahabat ku, mereka lah yang
selalu menguatkan aku di kala aku sendri. Tiga hari kemudian suamiku menghubungi
melalui ibu ku dia menanyakan keadaan ku dan ingin berbicra padaku dan ibu ku
yang baik lalu memberitahukanku tanpa sepengetahun ayah ku di telpon suamiku
meminta aku pulang dia meminta maaf atas semua kesalahannya tapi aku tidak
percaya aku masih takut suamiku berlaku tidak baik, suamiku memberi batas waktu
padaku jika dalam tiga hari aku tiak pulang maka semua akan berakhir aku pun
tidak menuruti kata kata nya itu karena aku tau seseorang yang sudah mabuk
tidak akan bisa di percaya kata katanya.
Tiga hari berlalu suamikupun menghubungi
aku lagi, sepeti yang sama dia memberikan persyaratan kembali kali ini dia
memberi waktu satu minggu untuk aku bisa menentukan pilihan apa aku akan
kembali padanya atu tidak aku pun menghiraukan semua perkatanya karna aku benar-benar
siap semua resiko yang aku terima Tetapi satu bulan aku tinggal disini akhirnya
suamiku datang menemui aku, dia
membuktikan kepada kedua orang tuaku bahwa dia menyesali semua perbuatannya dia
memintaku kembali dan memulai semua kehidupan yang baru di tempat yang baru dan
orang orang yang baru juga. Karena melihat kesungguhannya aku pun mencoba
membuktikan semua kata katanya itu
dengan ikut kembali bersamanya ternyata suamiku benar benar berubah dia
bekerja seperti suami-suami yang lain
nya dia menyayangi aku sepenuhnya dan perhatiannya pun membuat aku bahagia,
satu bulan sudah aku menjalani kehidupanku, akhirnya aku pun di beri kesempatan
untuk mengandung dan akupun langsung memberitahukan kabar itu pada suamiku dia
pun senang karena ini lah yang kami tunggu-tunggu kehadiran seorang bayi di
tengah tengah keluarga kecil kami. suamiku banyak sekali memberi perhatian pada
ku dia benar-benar bisa menjadi suami yang baik, tujuh bulan sudah aku
mengandung suamiku menggelar acara tujuh
bulanan bayi kami, dan tidak heran acara yang di gelar membuat aku pusing karena
acara yang di buat di dalam rumah mertuaku dia selalu berselisih pendapat
dengan aku dan suamiku apa yang kita lakukan selalu membuat dia salah paham, dan
acara pun selesai aku pun pulang ke rumah kami kekontrakan di sana walaupun
tempat nya kecil tapi tidak ada beban yang aku rasakan semuanya bebas aku bebas
melakukan apa saja sesukaku tapi setelah delapan bulan usia kandungan ku aku terpaksa kerumah mertuaku karana suamiku
sedang sibuk-sibuknya bekerja, dia tidak tega jika melihat aku sendri di rumah
dia takut jika aku tiba-tiba melahirkan dia tidak bisa mendampingiku, aku pun
menurutinya walaupun itu membuat aku sedih, aku banyak takut suamiku berubah
dan tidak baik lagi padaku, beberapa hari aku disana apa yang aku takutkan itu
benar terjadi, hanya masalah kecil mertuaku marah dan memarahi aku didepan suami
dan sodaranya, aku benar-benar malu, aku sedih waktu itu tapi suamiku tidak
bisa membelaku karena walau bagaimanapun dia itu ibu nya. Aku meminta pada
suami ku utuk kembali kekontrakan saja tapi suamiku tidak memberiku izin, aku
di suruhnya untuk bersabar demi anak yang aku kandung.
Sembilan bulan sudah dan ini detik
detik aku melahirkan aku melihat pengorbanan suamiku begitu besar untuk aku dia
berjuang mendampingi aku dia menguatkan aku dan pada jam 2 malam tepatnya hari
sabtu tanggal 14 april 2012 anakku lahir dia cantik tapi aku melihat raut
kekecewaan pada suamiku aku tau dia kecewa karena anak yang aku lahirkan
seorang perempuan dengan sabar aku mengurus bayiku sendiri. Ya Allah bukannya
aku tidak bersyukur atas pemberianmu tapi sifat suamiku mulai berubah, dia
tidak memperdulikan aku dan Zahira (nama anakku) malah terdengar kabar bahwa
dia sekarang sedang berjudi apa benar ini aku tidak tau apa aku harus percaya
atau tidak tapi aku coba bertahan demi anakku yang masih kecil.
Di tahun 2013 aku dan suamiku
berencana membuat rumah kecil, tetapi sebuah cobaan datang padaku, ibu mertuaku
kembali marah padaku, aku di marahinya habis-habisan dan suamiku tidak ada, dia
tidak membantu kesulitan ku kali ini dia memarahi ku gara-gara cucunya aku
marahi, aku marahi cucu nya karna dia mencelakakan anak ku dengan membenturkan
kepala anakku ke tembok, apa aku sebagai ibu harus diam saja melihat semua itu?
apa aku harus pura-pura buta dengan semuanya? aku tau dia masih kecil tapi jika
tidak di tegur yang ada dia semakin berbuat semaunya tapi mertuaku tidak
memperdulikannya, aku tetap salah di matanya dan aku tetap selalu di anggap
sebagai menantu yang tidak berguna, aku berusaha bercerita pada suamiku tapi suamiku
hanya bisa menyabarkan aku tanpa ada komentar apa-apa, aku meminta padanya
untuk pulang tapi suamiku tidak mengizinkannya, ya allah kapan ke bahagiaan itu
bisa datang pada ku apa aku harus selalu mengalah dan bersabar tapi sampai
kapan?sampai kapan aku harus seperti ini, biarlah semua jadi cerita hidupku, cerita
yang akan selaluku bawa sampai mati, sampai aku terima ini dengan ikhlas, aku
hanya bisa berdo’a pada yang maha kuasa, jika aku tidak bisa bahagia di dunia
semoga aku bisa bahagia di akhirat nanti di surga sana Aamin.
Ini adalah sepenggal cerita kehidupan
ku yang penuh duka dan entah kapan aku bisa merasa bahagia seperti yang lainnya
biarlah semua berjalan apa adanya. Semoga apa yang aku alami tidak dialami
anak-anak ku nanti. Anak-anakku harus bahagia dia tidak boleh mengalami hal
sepertiku. Karena anakku adalah cahaya hidup ku yang selalu membuat aku tegar
menghadapi beban dalam hidup ku serta menghilangkan sedikit demi sedikit sedih
ku.
Sampai bertemu di kisah selanjutnya
ya dan semoga kisah selanjutnya adalah kebahagiaan ku.
By,nurhalimah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar